Jadi Pemenang

Kemenangan yang seindah-indahnya dan sesukar-sukarnya yang boleh direbut oleh manusia ialah menundukan diri sendiri -R.A. Kartini

Perasaan bergelora itu hadir 16 taun lalu, saat saya berhasil menggondol juara II kompetisi merakit Lasy (mainan sejenis Lego) tingkat Kota Bandung. Gejolak dalam dada belum terlalu bermakna karena saya belum ngerti betul apa arti sebuah kemenangan. Dengan dijinjingnya sebuah piala 50cm berwarna emas dan satu unit Nintendo ke rumah aja udah membikin bola mata saya bernyala kaya petromak pasar.

Enggak tau kenapa, sikap kompetitif sewaktu kecil itu lumayan pudar seiring waktu yang terus bergulir. Mungkin kalian pernah rasain hal yang sama. Ngikutin lomba apapun udah jarang banget, terakhir jadi juara kelas waktu masih SMP dan berikutnya cuma ngabisin masa kuliah sebagai mahasiswa (sok) aktif tanpa ada pencapaian dahsyat.

Buat kita yang enggak terlalu ngoyo, pernyataan-pernyataan kaya begini biasanya ngelumpuhin pikiran:

“Enggak usah ikut kontes gitu-gituan lah, mau ngapain sih?” 

Mau jadi ketua panitia? Wey, gagal lo entar. Udahlah”


+ Read More
 
photo

moneyisnotimportant:

Consider this essential.

moneyisnotimportant:

Consider this essential.

(Source: touratechusa)

Berangkat ke Pluto

Mau tau?

Jadi, udah sekian lama saya enggak nulis apapun di blog. Bisa jadi, tulisan ini merupakan karya yang aneh setelah 3 bulan vakum menulis. Lebih aneh lagi waktu barusan saya mulai dengan kata “jadi” yang identik dengan bab kesimpulan di akhir. 

Atau jadi mirip awalan dari kisah misteri alias kismis yang beberapa tahun lalu sempet ngehits di layar kaca. 

Jadi, pemirsa kismis, begini ceritanya…

Dengan manja serta lugunya, beberapa bulan lalu saya pernah mengeluh tentang tampilan Tumblr yang gak asyik lagi. Saya rindu sama tampilan lama yang bikin hati ini senang bisa menemani jari berjoget di papan ketik. Tapi itu dulu… *memandang jauh ke langit dengan mata nanar*

Tampilan area ketik si Tumblr ini sekarang jadi mirip sama tampilan Gmail kalau kita mau buat email baru. Entah apalah itu nama teknologinya, semacam upaya untuk ngehemat ruang dengan wajah pop-up. Begitu kurang lebih bahasa awamnya.

Saat tau alasan itu yang bikin saya ogah-ogahan nulis, saat itu pulalah saya sadar kalau saya masihlah terhitung penulis manja. Penulis yang maunya nulis dalam kondisi serba ideal. Belum nulis sebagai kebutuhan, tapi masih kesukaan.

Di samping itu, faktor kesibukan juga mendominasi waktu 24 jam. Semenjak nerusin studi ke jenjang magister, fokus pikiran dan waktu jadi teralihkan ke bidang akademik. Gak pernah nyangka kalau S2 sebegini intensnya, tapi karena bidangnya saya sukai, jadinya enggak ada beban hati.

Seberapa sibuk sih? Indikator kekiniannya gampang. Saking sibuknya saya saat ini, jumlah cuit harian yang biasanya bawel dengan puluhan kicauan bisa menukik ke angka 0. Ya, ternyata bisa juga ya enggak nge-twit selama seharian penuh kalau pikiran dan tubuh lagi disita kegiatan.

Kenapa tiba-tiba nulis lagi?

Salah satu alasan konkretnya adalah karena UAS baru aja usai dan jeda menuju semester pendek di perkuliahan adalah sebulan lagi. Lagian, kelamaan enggak nulis takut jadi gila. Soalnya, isi kepala muter terus di tempat yang sama tanpa nemuin lubang ekspresi.

Selamat datang kembali di papan ketik, Satria. Papan yang pernah bikin kamu tergila-gila karena ada huruf di permukaan tombolnya.

Selamat menjelajahi kembali juga isi pikiran saya yang enggak keruan, pembaca. Yaa itung-itung melenturkan jari lagi supaya sinkron sama otak.

Enggak tau mau nulis apalagi. Bahkan kasih judul pun enggak nyambung sama isi. Ibaratnya bikin baso isi telor tapi isinya baso. Basoception.

Kapan lagi. Enggak pake dot kom. 

Para Pencari Momen

Jagung, kembang api dan terompet berhimpitan di trotoar jalan

Ramainya tiap sudut kota oleh para pedagang musiman empat hari yang lalu seolah jadi pengingat bahwa saat itu adalah hari terakhir di tahun 2012. Dramatis. Mereka telah bersolek dan menyiapkan tenaga dari petang karena dalam hitungan jam, akan terselenggara salah satu hajatan besar yang dirayakan oleh milyaran manusia.

Hajatan itu adalah tahun baruan atau dalam bahasa Garutnya dikenal sebagai New Year’s Eve.

Yang hidup di pinggiran, beranjangsana ke alun-alun. Yang di tengah kota, pergi ke luar daerah untuk berlibur. Kegembiraan tahun baru selalu punya energi yang meluap dahsyat dan menghanyutkan banyak manusia untuk sejenak melupakan rutinitas yang itu-itu lagi.

Salah satunya saya.

Tak diundang, hujan malah turun tanpa permisi. Seolah coba meredam kuatnya hasrat para anak Adam untuk bersenang-senang di luar. Tapi sayang, maksud dari si hujan kali ini enggak terpenuhi. Dengan meledaknya salah satu gardu listrik induk malam itu, listrik pun padam hampir di sebagian besar area Bandung dan Cimahi.

Niatan dalam hati makin kuat: harus menghabiskan waktu di luar rumah.


+ Read More
 
Coba Dengar Dulu

Aslinya, saya bukan orang yang supel

Itulah alasan paling nyata kenapa saya sering iri hati sama orang-orang ekspresif yang bisa berbaur cepat dengan lingkungan baru. Lisan mereka seolah dianugerahi keajaiban untuk bisa memancing ketertarikan orang lain.

Tapi Tuhan Maha Adil.

Di balik hal yang manusia lihat sebagai kekurangan, Ia selipkan kelebihan. Karena punya karakter yang enggak supel, saya jadi mengedepankan pendengaran dibandingkan perkataan. Telinga dibandingkan mulut. Kalau makan, disuapinnya aja ke lubang kuping.

Anehnya, kebiasaan mendengar ini berubah jadi hobi menyenangkan buat saya semenjak bangku SD. Saat itu, gak sedikit teman laki-laki maupun perempuan yang mengutarakan curahan hati dan meminta saran. Bagai dibacakan cerita pengantar tidur, seakan saya dibuai oleh keluh kesah mereka tentang apapun. Dari mulai lawan jenis, akademik, film bokep, harga emas sampai tetek bengek keluarga. 

Tersadar bahwa ternyata saya suka nyimak dan diceritakan sesuatu. Jadi mirip sama Mamah Dedeh. Curhat dong, Mah!


+ Read More
 
Invictus

Poems by William Ernest Henley

Out of the night that covers me,
Black as the Pit from pole to pole,
I thank whatever gods may be
For my unconquerable soul.

In the fell clutch of circumstance
I have not winced nor cried aloud.
Under the bludgeonings of chance
My head is bloody, but unbowed.

Beyond this place of wrath and tears
Looms but the Horror of the shade,
And yet the menace of the years
Finds, and shall find, me unafraid.

It matters not how strait the gate,
How charged with punishments the scroll.
I am the master of my fate:
I am the captain of my soul.

Demi Nama Keluarga

Huft

Selama seminggu kemaren, saya dilanda penyakit langganan musim penghujan yakni demam dan flu. Padahal percayalah, saya enggak pernah membayar biaya berlangganan sama agen penyakit manapun. Di tengah kecemasan, ibu selalu mengingatkan “Kamu harus sabar karena kamu lagi diuji. Kalau ikhlas, dosa-dosamu akan diambil”.

Sebagai pasien yang patuh pun saya manut aja waktu dokter menyarankan untuk beristirahat selama beberapa hari di rumah. Itung-itung jadi momen pengisian ulang atas energi yang kemaren dipakai pol-polan selaku pria dinamis masa kini *sisir jambul*

Efek samping dari kegiatan bedrest adalah saya jadi sibuk menongkrongi layar kaca. Pas memindahkan saluran, kebetulan tombol dari si pengendali jarak jauh berhenti di program televisi yang menayangkan proses wawancara singkat dengan seorang bapak renta.


+ Read More
 
photos

video

Tatiana Kochkareva - Roses

Selalu suka aransemen genit macam ini, sedikit mengingatkan saya akan memori tentang Panic at the Disco di masa SMA. Berpadu dengan vokal Tatiana yang androginy, tembang ini menyuguhkan telinga dengan sajian unik bin asyik.

Bertandang ke Kota Singa


Negara imut yang hanya berluas tanah 704 kilometer persegi 

Kepergian tiga hari ke Singapura dilakukan karena ada alasan yang sungguh mendesak: Sigur Ros akan mengadakan konser di Fort Canning Park tanggal 23 November 2012. Sebagai penikmat musik kelas mujaer, gak afdol rasanya kalau harus absen untuk menyaksikan Jonsi berdendang.

Jangan diejek ya, ini adalah kali pertama buat saya bertandang ke Singapura yang letaknya cuma sepelemparan batu dari Indonesia. Karena menggunakan getek dan otopet untuk pergi ke sana akan terlalu melelahkan, kami memutuskan untuk memanfaatkan jasa maskapai penerbangan yang kerap promo itu.Tiket perjalanan pulang-pergi dibeli 3 minggu sebelum hari-H dengan banderol harga 950.000 Rupiah.

Baru 2 bandara internasional yang pernah saya sambangi, Cengkareng di Indonesia dan Kansai di Jepang. Kesan pertama saat menginjakkan kaki di Bandara Internasional Changi adalah tampilan modern yang bersatu padu dengan keindahan arsitektur. Kerapian dan kebersihan bandara terbaik di dunia ini pun terjaga apik bak tak terlewat satu inchi pun dari pengawasan mata para petugas kebersihan.

Ngomong-ngomong soal petugas kebersihan, Singapura dikenal dengan kebijakannya untuk mengkaryakan para manula sebagai tenaga kerja. Bisa kita lihat saat mengitari bandara: ada banyak kakek-nenek yang sedang menyapu tangga, mengelap cermin toilet atau mengosongkan tempat sampah. Mereka tampak ikhlas, penuh dedikasi dan senang hati menjalankan peran untuk mempercantik wajah Changi.


+ Read More